SURGA DI SEMERU

Perjalanan ini kita lakukan pada liburan hari Raya Idul Fitri kemarin, tapi baru sempat saya publikasikan sekarang.  Awalnya obrolan iseng kami, untuk mengisi liburan yang lumayan cukup lama, dan sayang bila kami sia-siakan begitu saja… dengan tidak melakukan apapun. Kebetulan kami mempunyai hobi yang sama dalam mengisi liburan kami…’’ yup!!!!  Menikmati alam!!!! “. Setelah mencari-cari tujuan mana yang akan kami kunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke puncak tertinggi  di pulau Jawa… “ MAHAMERU “.

 

Pilar langit

STASIUN  SENEN 12-9-2010

Jam 12:00 stasiun senen ramai sekali dengan orang-orang yang ingin memakai jasa angkutan kereta api, mungkin saat itu bertepatan dengan liburan hari raya Idul Fitri, ada yang memang berniat untuk mudik… tapi banyak pula yang hanya iseng-iseng mengisi liburan, seperti kami. Itu terbukti dengan banyak’nya anak-anak muda dengan setelan khas para pendaki, kumplit dengan tas gede di punggung mereka, ataupun  menaruh tas mereka supaya berdiri dan saling menopang… itu salah satu kebiasaan para pendaki… mungkin syimbol dari kebersamaan dan saling menjaga. Kamipun sempat berkenalan dengan salah satu dari rombongan pendaki, yang beranggotakan dua orang pria dan satu orang wanita, kebetulan mereka mempunyai tujuan yang sama dengan kami. 

Kereta yang akan kami pakai untuk sampai tujuan yaitu kereta class ekonomi “ MATARMAJA”. Ada yang bilang, Matarmaja adalah singkatan dari stasiun yang disinggahinya ( Malang-Blitar-Madiun dan yang terakhir Jakarta ). Waktu itu ongkos tiket yang kami beli cukup terjangkau, Jakarta-Malang dengan ticket  51 ribu saja, lamanya perjalanan sekitar 20 jam, jadi start keberangkatan kami dari Jakarta jam dua siang….kemungkinan jam sepuluh pagi kami sudah sampai di stasiun Malang.

KERETA API EKONOMI MATARMAJA

Para pengguna jasa angkutan kereta api ekonomi Matarmaja telah memenuhi di setiap rangkaian gerbongnya…kebanyakan dari kami tidak kebagian tempat duduk karena banyaknya penumpang yang mempunyai minat yang sama dalam ber’angkutan massal ini. Kami duduk ber’alaskan carrer kami di jalur tempat orang-orang berlalu-lalang di dalam gerbong… alhasil!!! kamipun harus banyak mengusap dada saat muka kami di’ langkahi oleh para pedagang asongan yang sepertinya tidak ada  habisnya sepanjang perjalanan. disaat kereta berhenti agak lama’an, kami sempatkan untuk  sekedar menghirup udara segar di luar gerbong dan melakukan kegiatan- kegiatan yang tidak bisa kami lakukan selama dalam gerbong… di dalam gerbong kami hanya bisa duduk diatas career kami… dan berdiri disaat kami kelelahan karena kelamaan duduk.

penderitaan kami saat di dalam gerbong yang penuh sesak

kepadatan dalam gerbong kereta memaksa kami untuk duduk diatas career kami

KERETA API MATARMAJA ; 04:00

Sekitar jam empat pagi… kami memasuki stasiun Madiun. Kami beruntung…!!! Banyak sekali penumpang yang turun di stasiun ini…Setelah menunggu selama hampir empat belas jam,  semenjak keberangkatan kami dari stasiun Senen-Jakarta, akhirnya kami bisa merasakan tempat duduk dari kereta Matarmaja ini… jendela sengaja kami buka, dengan begitu kami bisa menikmati suasana dan kesejukan udara di pedesaan pagi itu. Dengan disuguhi pemandangan hutan jati, kemudian terowongan peninggalan Belanda dan dari kejauhan kami’pun melihat sebuah waduk yang sangat luas… Semakin jauh kami meninggalkan Madiun, laju dari kereta yang kami tumpangi mulai pelan, dan kami melihat sebuah tulisan  dengan huruf yang besar “STASIUN MALANG”… menandakan kami telah sampai di tempat tujuan kami, kota Malang.

kenyamanan kami setelah mendapatkan tempat duduk
STASIUN MALANG ; 12-09-2010; 10:00

Sesampainyami di stasiun  Malang, kami putuskan untuk mencari makan dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kami… Nasi putih, telor kecap, tempe goreng menjadi menu kami hari ini. Kami memilih warung nasi sederhana yang tidak begitu jauh dari stasiun Malang’ siang itu. Setelah selesai mengisi perut….kami juga mencari toilet umum di sekitar stasiun Malang untuk membersihkan badan terlebih dahulu dari keringat yang ada di tubuh kami, supaya badan kami segar kembali dalam perjalanan kami selanjutnya.

stasun Malang
STASIUN MALANG – PASAR TUMPANG

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pasar tumpang. Disini kami menaiki angkutan kota yang kebetulan sekali berhenti di depan kami. Setelah nego harga untuk sampai ke pasar tumpang, kami langsung menaiki angkot tersebut. Untuk tarif angkot, per’orang kami kena biaya Rp.5000/orang. Jadi untuk total kami berlima adalah Rp.25.000; Sebagai pemegang untuk biaya kami di perjalanan saat itu adalah teman kami, Tandro. Owh, iya… Kami berangkat ke Semeru hanya berlima, Agus, Tandro, Hilman, Roni dan saya sendiri  Dian Alvaro. Disini Agus’lah yang paling berpengalaman soal’ main ke gunung, setidaknya dengkul dia pernah lebih tinggi dari puncak-puncak gunung yang ada di pulau jawa, bali dan lombok. Sedangkan saya sendiri minim pengalaman tentang mendaki. Di perjalanan…. kami bertemu dengan salah seorang mahasiswa asal Jakarta yang sedang menimba ilmu di Malang. Dia mulai menyapa kami dengan menanyakan kami hendak pergi kemana. Setelah pemuda itu sampai di tempat tujuannya… dia pamit kepada kami, dan memberikan ongkos’lebihan kepada supir angkot,maksudnya untuk menambahkan biaya  ongkos kami  ke pasar tumpang. Belum sempat kami ber’terimakasih, dia sudah jauh meninggalkan kami yang masih bengong di dalam angkot, karena kaget dengan kebaikan pemuda tadi.

PASAR TUMPANG

Sesampainya di pasar tumpang, kami harus melapor dulu pada orang yang mengkoordinir perjalanan  dengan angkutan jeep yang akan mengantarkan kami ke Ranu Pane. Di Pasar Tumpang ini kami harus mempersiapkan dua lembar fhotocopy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Bagi yang belum bawa surat keterangan sehat… tidak jauh dari pasar tumpang, tersedia puskesmas yang memberikan jasa untuk membuat surat keterangan sehat dari dokter. Disini ada juga angkutan alternative untuk mencapai Ranu Pane, yaitu angkutan sayur yang berangkat’nya malam hari.

Fungsi dari orang yang mengkoordinir angkutan jeep tersebut adalah untuk menertibkan para pendaki, dan menghitung jumlah rombongan agar sesuai dengan kapasitas angkut dari mobil jeep tersebut. Lima belas orang untuk penumpang di masing-masing mobil jeep… bila masing-masing rombongan berjumlah lima belas orang, mungkin tidak akan se’ribet ini, karena pas dengan daya angkut dari mobil jeep, berhubung kami hanya berlima… kami harus di gabungkan dengan rombongan yang lainnya. Setiap orang dikenakan biaya Rp.35.000, ini juga bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan para pendaki, karena biaya sewa untuk mobil jeep sekitar Rp.525.000;/mobil

Pasar Tumpang dan jeep

PASAR TUMPANG – RANU PANE

Diperjalana antara pasar tumpang dan ranu pane, kami harus melapor ke kantor TNTBS (Taman Nasional Tengger Bromo Semeru). Disini kami menyerahkan fhotocopy KTP dan juga surat keterangan sehat yang telah kami persiapkan di pasar tumpang tadi, dan yang mungkin orang tidak tahu, disini juga kami harus mempersiapkan materai 6000. Disini juga kita di kenakan biaya untuk karcis masuk Rp.2,500; dan asuransi Rp.2000/orang. Setelah selesai segala persyaratan dan mendengarkan semua peraturan…. perjalanan di lanjutkan kembali. Setelah melewati perumahan warga dan perkebunan apel… perjalanan kami’ disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Jajaran pegunungan dan jurang yang sangat dalam di sebelah kanan dan kiri’ jalan yang kami lalui. Disini andrenalin kami diuji, oleh ulah si supir jeep yang dengan asik’nya membontang-bantingkan tubuh kami saat  mobil menginjak jalanan yang berbelok dan berbatu… justru itu merupakan sebuah tantangan dan petualangan sekaligus pengalaman yang mengasyikkan buat kami dan para pendaki lainnya saat itu… tapi kami yakin, supir tersebut telah berpengalaman dengan trek yang dilaluinya, karena pekerjaan dia adalah mengantar para pendaki untuk sampai di Ranu pane. Setelah beberapa lama perjalanan, jeep berhenti untuk memberikan kesempatan para pendaki untuk melihat gunung Bromo lebih dekat. Disini kami menyempatkan photo2 dengan pemandangan menkjubkan Bromo di pinggir kami. Setelah puas photo2… kami melanjutkan kembali perjalanan kami. Masih dengan pemandangan yang belum terbayangkan sebelumnya… dari kejauhan kami mulai melihat puncak yang menjadi tujuan kami, MAHAMERU… Subhanallah… puncak yang begitu megah berdiri diantara bukit2 dibawahnya… Jujur!! Dalam hati sempat bertanya2 “ apakah saya mampu sampai di puncak yang begitu tinggi dan begitu megah menjulang… berdiri di puncak Mahameru… Istananya para dewa yang masih di percaya oleh suku tengger dan umat Hindu…”

gunung Bromo di tengah perjalanan kami menuju Pasar Tumpang
RANU PANE

Dari kejauhan terlihat danau diantara bukit2 yang begitu indah, menandakan perjalanan kami dengan jeep akan segera berakhir. Perjalanan dari pasar tumpang ke ranu pane menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan plus dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Sampai di ranu pane sekitar jam setengah enam sore. Kondisi di Ranu Pane saat itu begitu dingin. Meskipun waktu itu menunjukan jam enam sore, tapi keadaansekitar sudah gelap. Kami harus melapor kembali di pos ke’dua yang berada di Ranu Pane. Disini kita melapor’kan apa2 saja yang kami bawa dan juga akan berapa lama kami mendaki. Setelah melapor, kami mencari warung yang berada di sekitar pos… untuk mengisi perut kami, agar mempunyai tenaga dalam pendakian kami nanti.

pos di Ranu Pane
RANU PANE – RANU KUMBULO

Perjalanan dari Ranu Pane ke Ranu kumbolo dengan waktu normal… menempuh waktu sekitar empat jam perjalanan…  Saat itu menunjukan jam delapan malam. Setelah kami rundingkan… kami berlima memilih untuk memulai pendakian malam ini juga. Selain untuk menghemat waktu, kami juga ingin melihat matahari terbit di Ranu Kumbolo. Dengan berbekal senter di kepala masing2, kami menembus gelap dan dinginnya malam itu. Tapi setelah beberapa meter kami berjalan… kami agak kebingungan karena menemukan persimpangan jalan. Disaat kami sedang kebingungan… dari kejauhan terlihat kerlap-kerlip dari lampu senter. Pertamanya kami menduga lampu senter itu milik dari petugas kehutanan, tapi semakin mendekat…  ternyata lampu senter itu berasal dari para pendaki yang ingin melanjutkan perjalanan malam itu juga. Akhirnya kami’pun ikut dalam rombongan pendaki ini… ternyata telah bergabung juga rombongan pendaki kenalan baru kami di stasiun Senen kemarin. Rombongan pendaki ini sekitar tujuh orang… semuanya anak-anak dari Tanggerang, ditambah lagi tiga orang pelajar SMU dari Kebon Jeruk-Jakarta… rombongan kamipun semakin banyak sekarang. Kami berjalan beriringan menembus  hutan dan gelapnya malam. Sepanjang perjalanan… Kami’pun saling memperingatkan dengan teman, apabila di depan jalur yang kami lalui terdapat sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan kami, karena keterbatasannya penglihatan di dalam keadaan gelap seperti saat ini… ego kami untuk cepat-cepat sampai di Ranu Kumbolo’pun harus kami kalahkan di saat salah satu teman baru kami dari Kebon Jeruk  merasa sudah kelelahan dalam perjalanan. Saya, Tandro dan Agus harus rela tertinggal jauh dari rombongan yang lainnya untuk terus menemani teman kami, karena sudah tidak bisa lagi berjalan cepat. Didalam kegelapan hutan… kami sangat menikmati hamparan bintang-bintang yang bertaburan di langit saat kami break sebentar di sela – sela perjalanan kami. Sesampainya di Ranu Kumbolo, sekitar jam satu dinihari… kamipun langsung mendirikan tenda kami untuk beristirahat.

TANJAKAN CINTA DI RANU KUMBOLO

Pagi itu di Ranu Kumbolo begitu dingin… satu persatu dari kami mencoba keluar dari tenda dengan jaket masih menempel di tubuh kami, untuk melawan dinginnya Ranu Kumbolo. Subhanallahh… tak bisa kami menahan rasa takjub melihat pemandangan yang berada di hadapan kami saat pertama kali keluar dari tenda. Danau yang begitu luas dengan kabut menggantung diatasnya. Semakin lama hangat’nya sinar matahari telah sampai mengenai kulit kami, kabut’pun perlahan-lahan mulai menipis, terlihat  dua buah bukit di sisi kiri dan kanan danau yang berada disebrang kami seakan menambah keindahan dari danau Ranu Kumbolo pagi itu. Ketika kami membalikan badan ke belakang, kami seakan di bentengi  bukit rumput yang mengelilingi kami… di bukit itu… kami melihat jalan setapak yang menuju keatas bukit, itulah tanjakan fenomenal bagi para pendaki… Tanjakan Cinta…”. Mitos’nya… bagi para pendaki yang berjalan menaiki tanjakan cinta sambil membayangkan orang yang ia cintai, dan tidak berhenti di tengah jalan, maka cinta dia  akan kesampaian… Wallahualam… yang pasti kami menikmati semua keindahan yang sedang berada di hadapan kami sekarang. Inilah syurga yang Tuhan ciptakan di muka bumi ini untuk dititipkan kepada manusia dan mengingatkan manusia bahwa ada surga yang lebih indah di atas sana.

Tepat seperti rencana kami, jam setenga dua belas siang kami packing untuk melanjutkan pendakian kami kembali menuju puncak Semeru.Teman kami Roni’pun sempat menanam pohon buah anggur dekat pagar yang ada nisan dengan nama pandaki yang meninggal ataupun hilang di saat mendaki gunung Semeru ini (bagi para pendaki yang akan mendaki gunung Semeru, bila pohon anggur kami masih ada, tolong jaga dan jangan di rusak pohon kami). Sampah yang kami hasilkan di Ranu Kumbolo’pun kami kumpulkan dengan kantong plastik, lalu kami taruh di tempat yang mudah kami ingat, untuk kami bawa turun dan kami buang di Ranu Pane yang memang di sediakan  tempat sampah oleh petugas kehutanan untuk para pendaki’ agar tidak membuang sampah sembarangan di gunung. Sayang… keindahan ini berkurang dengan adanya sampah yang dibuang sembarangan oleh pendaki yang notabene mengaku dirinya pencinta alam.

setitik cahaya matahari diatas Ranu Kumbolo
tanjakan cinta
TANJAKAN CINTA, ORO-ORO OMBO, CEMORO KANDANG, KALIMATI

Saat kami menaiki tanjakan cinta, apa yang kami lihat dan kami pikirkan dari pinggir danau Ranu Kumbolo  tentang tanjakan ini sungguh di luar dugaan kami. Tanjakan yang kami bayangkan tidak begitu berat untuk kami daki… ternyata cukup untuk menguras tenaga kami, dan juga membuat pegal kedua betis kami.. “Ayo semangat!!! Terus bayangkan orang yang loe’ sayangi dan terus mendaki jangan sampai berhenti agar kesampaian cintanya…” teriakan kami sambil bercanda, menambah semangat kami untuk terus menaiki tanjakan cinta ini…. Sesampainya di atas bukit tanjakan cinta ini, kami menyempatkan break sebentar untuk memulihkan tenaga kami dan menghilangkan pegal pada kedua betis kami… Sekali lagi tentang Ranu Kumbolo… begitu indah di lihat dari ketinggian di atas bukit ini…Subhanallah… tak henti-hentinya kami mengagumi ciptaanMu.

Setelah beberapa menit kami melanjut’kan perjalanan… kami sungguh terkejut dengan apa yang ada di hadapan kami, Subhanallah… surga apa lagi yang kami temukan di gunung Semeru ini…???”. Kami berada diatas bukit… di bawah kami terhampar padang rumput yang sangat luas dengan bunga-bunga berwarna ungu, tempat inilah yang dinamakan “oro-oro ombo”. Ada dua jalur untuk melewati oro-oro ombo ini. Yang pertama dengan mengitari bukit… dan yang ke dua langsung menuruni bukit seperti yang kami lakukan sekarang ini. Setelah menuruni bukit, kami langsung di hadapkan dengan jalan setapak, yang kedua sisinya terdapat tumbuhan dengan bunga berwarna ungu. Karena rapat dan tingginya tumbuhan ini, kami seperti berjalan diantara dinding dari tumbuhan yang mempunyai bunga yang sangat indah ini. Kami terus berjalan diantara rumput-rumput yang ada di oro-oro ombo ini sambil menikmati pemandangan dengan bukit-bukitnya yang indah di sekeliling kami.

Memasuki Cemoro Kandang… tidak ada bedanya dengan hutan-hutan khas pegununga, kumplit dengan jalan setapak yang menanjak. Pernah baca Novel’nya  5cm” ga???”, di novel itu diceritakan salah satu pemerannya pernah hilang di Cemoro Kandang ini… dikarenakan jalanan yang ada di Cemoro Kandang ini hampir sama… tapi jangan khawatir kok… sekarang jalananya udah agak mudahan. Setelah beberapa lama kami berjalan… kami menemukan lahan terbuka dengan sekumpulan bunga Edelwais yang banyak tumbuh di tempat ini. Entah kenapa… saya selalu nyaman dan tentram setiap melihat bunga Edelwais ini. Kamipun sempat mengambil photo dengan personil lengkap berlima di tempat ini dengan bantuan teman sesama pendaki dari Bandung, yang waktu itu mereka berangkat ke Semeru ini hanya berdua saja. Setelah melakukan dokumentasi sebentar di tempat ini, kamipun melanjutkan perjalanan dengan memasuki hutan kembali.

Setelah beberapa saat kami berjalan di dalam hutan… sekarang kami dikejutkan kembali dengan pandangan kami… dihadapan kami terhampar padang edelwais yang sangat luas, bahkan lebih luas dari padang yang kami temukan di tengah jalan tadi. Semeru memang selalu memberikan kejutan kepada kami.  Kami memilih berteduh di tempat yang rimbun yang berada di pinggir padang edelwais.

menaiki tanjakan cinta

trek memutari bukit

langsung menuruni bukit

berjalan diantara bunga berwarna ungu

 

kami dengan personil lengkap… paling kiri saya, Tandro, Roni, Agus dan Hilman.Edelwais bunga yang membuatku selalu damai bila sedang menatapnya
KALIMATI

Ternyata padang Edelwais ini bagian dari tempat yang disebut Kalimati… di sekeliling padang edelwais ini adalah hutan dimana saat ini kami berteduh dan beristirahat untuk menghilangkan lelah setelah dua jam perjalanan kami dari Ranu Kumbolo . Disini terdapat bekas jalur turunnya lahar yang menyerupai sebuah kali yang tidak berair…makannya daerah ini disebut kalimati atau kali yang tidak berair… Disini juga kita bisa menemukan satu2nya mata air… tapi agak sulit memang… kita harus turun dulu ke jalur lahar yang disebut dengan kalimati dan terus mengikuti jalur tersebut ke bawah sampai menemukan pancuran dari mata air. Dimata air ini orang2 sering memanfaatkan’nya untu mencuci piring, mengambiil perbekalan air, dan apa saja yang berhubungan dengan kebutuhan yang menggunakan air.

padang edelwais dan berpasir di Kali Mati
camp kalimati

Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di kalimati ini. Menurut cerita, dulu di kawasan kalimati ini sering terjadi hujan abu yang disertai pasir akibat dari ledakan yang sering terjadi di puncak Semeru.. tapi sekarang kami sudah tidak merasakannya. Banyak faktor yang kami pertimbangkan untuk memutuskan mendirikan tenda di sini… Pertama; karena dekat dengan mata air.. kedua; meskipun Aropodo jaraknya lebih dekat dengan puncak, tapi tanahnya labil rawan longsor. Setelah kami mengisi perut, kami melakukan meeting untuk persiapan ke puncak Semeru… Akhirnya kami memutuskan untuk memulai  perjalanan kami tepat jam dua belas malam, cukup daypack atau tas kecil yang kami bawa ke puncak, fungsinya untuk membawa perbekalan makanan dan minuman serta barang-barang lainnya, karena tenda dan tas carrer akan kami tinggalkan di camp Kalimati ini. Setelah kami persiapkan semua.. akhirnya kami tidur sore sekali untuk mengumpulkan tenaga supaya kami tidak telat bangun dan bisa menikmati terbitnya matahari di puncak Semeru.

puncak Mahameru dilihat dari camp kalimatijalur lahar dan mata air di camp kalimati

KALIMATI, ARCOPODO dan CEMORO TUNGGAL, PUNCAK MAHAMERU

Dari kalimati kami mulai melakukan perjalanan kira-kira sekitar jam dua belas dini hari… setelah sebelumnya perut kami diisi dahulu dengan makanan. Perjalanan kami lakukan kembali dalam gelapnya hutan dan dinginnya udara pagi dinihari saat itu. Sayang buat kami untuk melewatkan terbitnya matahari di puncak tertinggi di pulau Jawa ini. Jalanan mulai memperlihatkan keterjalannya… kamipun harus pintar mengatur nafas kami, karena oksigen mulai menipis di ketinggian. Setelah beberapa lama kami berjalan… akhirnya kami sampai di camp’ terakhir untuk pendaki sebelum menaiki puncak Mahameru yaitu Arcopodo. Ternyata ada juga pendaki yang mendirikan tenda disini, mungkin dengan mendirikan tenda disini, jarak antara camp’ dengan puncak lebih dekat. Arcopodo berarti “arca kembar” dalam bahasa Indonesia. Ada yang bilang disini terdapat arca kembar dalam bentuk nyata… tapi ada pula yang bilang arca kembar disini dalam bentuk ghaib…. Wallahualam… karena kemarin kami tidak menemukan satu arca’pun, dan menanyakan kepada orang’pun sama sekali tidak ada yang mengetahui letak arca kembar tersebut. Tak begitu lama kami berjalan… kami menemukan banyak sekali nisan-nisan pendaki yang meninggal dan juga yang hilang di gunung ini sepanjang trek yang kami lalui, persis dengan yang kami temukan kemarin di Ranu Kumbolo, tapi ini lebih banyak jumlahnya… lengkap dengan nama, tanggal lahir, almamater dan tanggal terakhir dia mendaki gunung ini. Dulu bahkan katanya lebih banyak dari ini, tapi sering terjadi longsor.. akibatnya, nisan-nisan itu terbawa oleh tanah yang longsor. Sekarang trek yang kami lalui’pun harus lebih berhati-hati, karena sebelah sisi kami adalah jurang-jurang bekas longsoran. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu senter berjajar keatas… ternyata itu adalah rombongan para pendaki yang sedang mendaki pasir Mahameru yang mempunyai kemiringan hampir empat puluh lima derajat. Disini juga selain kondisi jalan berpasir… juga dengan batu-batu labil, kalo diinjak. Disini kita harus memperhatikan keselamatan diri sendiri dan juga keselamatan pendaki lain yang berada di bawah kita. Usahakan pada saat menaiki pasir Semeru ini kita tidak menjadikan batu sebagai pijakan… karena kondisi batu disini labil dan mudah jatuh menggelinding kebawah, sehingga membahayakan nyawa pendaki yang ada di bawah kita. Trek pasir ini membutuhkan waktu kira-kira tiga sampai empat jam pendakian. Meskipun trek disini mempunyai kesulitan yang tinggi, karena medan yang kami tempuh berpasir dan berbatu, juga dengan kemiringan hampir empat puluh lima derajat sehingga setiap satu langkah yang kami ambil adalah dua langkah tubuh kita merosot kebelakang, tapi disini kita bisa menikmati langit dengan cahaya bintang tanpa batas, dan hembusan angin di pagi dinihari itu…kamipun merasakan kekuasa’an Tuhan yang begitu besar. Waktu itu, kami merasakan kelelahan yang luar biasa dalam mendaki punggung pasirnya gunung Semeru… tapi beruntung’ kami masih punya tekad untuk sampai ke puncak, sehingga tepat matahari mau memperlihatkan sedikit cahayanya… kami sudah mencapai puncak dari gunung Semeru ini. Kami berlima menikmati kemunculan matahari di pagi ini dan mengucap syukur karena kami sudah mencapai titik tertinggi di pulau Jawa  3676 mdpl. Terdengar suara gemuruh oleh kami… dan tak lama kemudian keluar kepulan asap dari dalam kawah Semeru yang memang masih aktif. Kejadian itu terus menerus dan menjadi salah-satu objek yang sangat menarik buat diabadikan. Di puncak ini juga terdapat nisan orang yang begitu fenomenal dan sempat diangkat ke layar lebar Soe-Hok Gie (Gie) dan rekannya Idhan Lubis, seorang aktifis dari UI’ yang meninggal di Semeru karena menghirup gas beracun. Makin siang pemandangan di Puncak Semeru ini semakin terlihat keindahannya, gunung Bromo terlihat jelas di bawah kami, gunung Slamet yang merupakan gunung tertinngi kedua di pulau Jawa, bahkan puncak gunung Rinjani di Lombok dan gunung Agung di Balip’un menyembul diantara awan-awan yang seakan-akan sekarang kami lebih tinggi dari awan-awan tersebut. Setelah beberapa jam berada di Puncak Mahameru, kamipun harus turun kembali. Akh…. Satu lagi syurga yang kami temukan di atas awan ini.. Syurga itu bernama Mahameru yang sekarang harus kami tinggalkan kembali untuk melanjutkan kehidupan nyata kami di Bekasi… Sampai jumpa kembali syurga’ku suatu saat aku pasti akan kembali lagi kesini…..MAHAMERU……….

menikmati matahari terbit di Puncak tertinggi pulau jawa, Mahameruasap yang keluar dari kawah Semeru
nisan Gie dan Idhan lubis di puncak Mahamerukami berlima di Puncak Mahameru

trek pasir

kutemukan kebebasan di Mahameru

kebebasan ku di puncak Mahameru
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: