Gunung Ceremai, Tanah Tertinggi di Parahyangan. 3078Mdpl. Jalur Palutungan-Linggarjati

Bila di tanyakan tentang gunung tertinggi, Gunung Ceremai merupakan gunung yang tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian mencapai 3078 Mdpl. Bila di tanyakan tentang mistik dari gunung ini, Ceremai juga mempunyai segudang cerita mistik yang tidak kalah menariknya di bandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Indonesia ini. Tapi yang paling penting dari semua cerita tentang gunung ini, hanya keindahan gunung Ceremailah yang menarik buat saya untuk mengunjungi gunung ini, di samping kehausan saya untuk menikmati kembali kebebasan dan juga kedamaian yang di tawarkan oleh alam, di tengah penatnya aktifitas sehari-hari di kota Bekasi ini.

Perjalanan di awali dari Gerbang Tol Timur Bekasi bersama seorang teman saya Simon. Sempat kebingungan di sini dengan transportasi yang akan mengantarkan kami ke Kuningan-Jawa Barat. Karena waktu sudah agak malam, dan perencanaan kami berdua yang serba dadakan sedangkan belum ada diantara kami berdua yang pernah berangkat kesana. Tepat jam 9 malam  datanglah bis menuju ke arah jawaTengah. Atas saran orang-orang yang berada di sekitar kami menunggu bis, kamipun akhirnya menaiki bis ini, dengan harapan kami bisa turun di kota Cirebon.  Dengan memberikan tarif 40.000, bispun bergerak memasuki gerbang tol dan meninggalkan kota Bekasi.

Berpikir bahwa kami akan di turunkan di terminal Cirebon ternyata meleset. Jam 2 dinihari kami berdua harus rela di turunkan di gerbang tol Palimanan karena bis tidak memasuki kota Cirebon, dan kamipun harus siap-siap dengan sambutan hangat para tukang ojek yang menyambut para penumpang bis yang kebetulan turun di tempat itu. Mereka sangat antusias sekali melihat kami berdua yang terlihat seperti pendatang dengan tas keril sebagai bawaan kami. Dengan segala rayuan manisnya para tukang ojek yang menganggap kami sebagai sasaran empuk buat mereka, kamipun dengan sekuat tenaga menolak ajakan mereka yang menawarkan tarif semena-mena terhadap kami. Akhirnya kamipun memutuskan untuk istirahat sejenak di salah satu warung kopi untuk sekedar beristirahat dan juga mencari-cari tahu tentang informasi angkutan alternatif lain di jam 2 dinihari ini tanpa harus naik ojek dengan tarif selangit. Jam 3 dinihari akhirnya kami menyerah dengan rayuan-rayuan tukang ojek yang selama satu jam ini setia mengajak kami ngobrol sambil menemani kami minum kopi.  Setelah nego tarif ongkos, kamipun di antar dari gerbang tol Palimanan menuju terminal Cirebon dengan ongkos 20.000/orangnya.

Tepat jam 7 pagi, akhirnya sampai juga kami di tempat tujuan kami Palutungan. Kami berdua memutuskan untuk menggunakan jalur Palutungan ini karena informasi yang kami baca dan yang paling di sarankan oleh sahabat-sahabat pendaki lewat internet untuk melewati jalur ini dan turun sendiri menggunaka jalur Linggarjati. Lokasi Palutungan terletak di Kampung Mulawarman, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Untuk mencapai lokasi ini dari terminal Cirebon, kita bisa menggunakan bis kecil atau elf dengan tujuan Tasik atau Ciamis dan turun di Kecamatan Cigugur dengan ongkos 7000/orang, kemudian di lanjutkan menaiki angkutan kota 09 menuju desa Cisantana dan minta di turunkan di pertigaan arah Palutungan dengan ongkos 3000/orang. Di pertigaan ini kita bisa menaiki ojek menuju Kantor Balai TNGC (Taman Nasional Gunung Ceremai) untuk meminta surat perizinan pendakian. Tarif ojek sendiri untuk sampai ke lokasi Balai TNGC di Palutungan ini adalah 10.000/orangnya. Sepanjang jalan menuju lokasi Palutungan sudah terlihat keindahan kota Kuningan dari ketinggian dan terlihat juga dari sini Danau yang yang ikut mempercantik kota Kuningan yaitu Waduk Darma.

Balai TNGC jalur Palutungan

Balai TNGC jalur Palutungan

Tepat jam 8 pagi, bersamaan dengan dimulai aktifitasnya penduduk kampung dengan lahan ladangnya, kamipun memulai kembali perjalanan kami menuju puncak Ceremai sebagai tujuan kami. Setelah melakukan perizinan pendakian dan istirahat sebentar sekedar ngopi dan mengisi perut kami di warung yang berada sebelahan dengan Kantor Balai TNGC. Perjalanan di awali dengan melewati ladang penduduk sebelum masuk ke dalam hutan pinus. Tanda-tanda menuju puncak terlihat jelas menuju puncak di jalur Palutungan ini, terlihat tanda panah dengan tulisan puncak di sepanjang jalan yang kami lalui,sehingga memudahkan pendaki untuk menggunakan jalur ini.

Setelah hampir satu jam setengah kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan Ceremai ini, sampailah kami di pos pertama kami mendaki di jalur Palutungan ini, yaitu Pos Cigowong. Pos Cigowong ini sendiri terletak di ketinggian 1450Mdpl (Meter Di Atas Permukaan Laut) dan meneuju puncak sekitar  5,6 Km lagi. Pos Cigowong ini tertata cukup baik, dengan lahan yang cukup luas, disini juga terdapat shelter dan juga fasilitas MCK dengan empat buah kamar mandi, komplit dengan toilet jongkoknya. Di sini juga terdapat air yang cukup melimpah. Selain Pos Cigowong , ada juga Pos Gua Walet yang menyediakan sumber air di jalur Palutungan ini, tapi sangat saya sarankan, untuk kebutuhan air selama pendakian, kita harus mengisinya di Pos Cigowong ini, selain hanya di Pos Cigowong ini yang menyediakan  air yang cukup melimpah berbeda dengan air yang berada Pos Gua Walet yang tidak setiap saat tersedia sumber air, mungkin hanya jika musim penghujan saja, tapi jika musim kemarau, air yang berada di Pos Gua Walet akan ikut mengering.

Shelter yang ada di Cigowong

Hanya lima belas menit kami berjalan, akhirnya sampailah kami di pos ke dua yaitu Pos Kuta. Berbeda dengan pos sebelumnya, Pos Kuta ini  tidak terdapat lahan untuk mendirikan tenda, karena berada di kemiringan. Pos Kuta sendiri berada di ketinggian 1575Mdpl dan jarak menuju puncak sekitar 5 Km lagi.

Semakin jauh kami memasuki hutan,jalanan setapak yang kami lalui menuju Puncak Ceremaipun semakin beragam. Ada jalanan landai tapi terlihat menyempit karena tertutup rumput-rumput liar, sampai tanjakan terjal dengan akar-akar sebagai alat untuk berpegangan kami. Sepanjang jalan yang kami laluipun banyak sekali pohon tumbang yang menghalangi jalanan, sehingga kami harus melompat atau menunduk untuk melewatinya. Jalur Palutungan ini memang lebih landai di bandingkan dengan jalur Linggarjati yang terkenal dengan tanjakan tanpa hentinya, tapi jalur Palutungan ini mempunyai track yang cukup panjang dan lama di bandingkan jalur Linggarjati, karena harus melingkar dan juga turun naik bukit. Melewati jalur Palutungan sendiri ada delapan pos yang harus kita lalui, masing-masing pos membutuhkan kira-kira satu jam perjalanan dari pos satu ke pos yang lainnya. Adapun pos-pos yang kita lalui adalah:

1. Pos Cigowong (1450Mdpl. 5,6 Km menuju puncak)

2. Pos Kuta (1575Mdpl. 5,1 Km menuju puncak)

3. Pos Pangguyangan Badak (1800Mdpl. 4,5 Km menuju puncak)

4. Pos Arban (2050Mdpl. 3,6 Km menuju puncak)

5. Pos Tanjakan Asoy (2200Mdpl. 2,9 Km menuju puncak)

6. Pos Pesanggrahan (2450Mdpl. 1,6 Km menuju puncak)

7.  Pos Sanghiyang Ropoh (2650Mdpl. 1,1 Km menuju puncak)

8. Pos Goa Walet (2950Mdpl. 0,3 km menuju puncak)

Jam menunjukan pukul  14:16 WIB.Kami sampai juga di Pos Sanghiyang Rapoh. Berarti hampir 7 jam kami berjalan dari awal kami mendaki dari desa Palutungan tadi pagi untuk sampai di Pos Sanghiyang Ropoh ini. Seakan kami muncul keluar dari lebatnya pohona, vegetasi pohonan yang berada di sekeliling kamipun berganti dengan vegetasi tumbuhan khas ketinggian dengan pohonya yang pendekdan kecil-kecil. Jalanan yang kami laluipun mulai terasa berat, dengan tanjakan terjal dan berbatu. Beruntung, dari sini kami sudah bisa melihat hamparan awan-awan di belakang kami, dengan Gunung Cikuray terlihat lancip muncul dari balik awan dan cukup menghibur kami dan sedikit menghilangkan rasa lelah kami dengan di suguhi pemandangan alam yang begitu indah.

Hamparan Awan Mulai Terlihat Dari Pos Sahyiang Ropoh

Dua jam berjalan melewati tanjakan terjal berbatu, akhirnya sampai juga kami di Pos Gua Walet. Kamipun langsung membuka tas keril kami dan memulai mendirikan tenda di sini, sebelum besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan kami ke puncak. Sebelum sampai di Pos Goa Walet kami menemukan pertigaan jalan, yang merupakan pertemuan antara Jalur Palutungan-Kuningan dan Jalur Apuy-Majalengka. Dari Pos Goa Walet ini terlihat jelas keindahan dan kebesaran Tuhan melalui alam. Dengan lembayung senja yang ikut mewarnai langit sore itu, membentuk segaris batas penglihatan manusia, hamparan awan putih dan puncak-puncak gunung bermunculan dari baliknya serta bunga-bunga Edelweiss yang sedang bermekaran seakan menari bersama tiupan angin dingin di sore itu. Sungguh rasa damai dan tenang itu merasuk ke dalam hati, saat melihat semua keindahan sore itu.

Pertemuan Jalur Apuy Dan Palutungan

Sore Hari Di Pos Goa Walet

Bunga Edelweiss Yang Sedang Mekar

Jam 5:15 kami mulai melanjutkan kembali perjalanan untuk sampai di puncak Ceremai, setelah sebelumnya kami packing dan dengan mengisi sedikit perut kami agar tidak masuk angin. Kami memang berniat turun melalui jalur Linggarjati, jadi kami membawa semua peralatan kami termasuk tenda kami untuk sampai ke puncak. Jalanan yang kami lalui masih sama dengan yang kemarin yaitu tanjakan terjal berbatu.

Seperempat jam kami berjalan, tepatnya pukul 5:34 pagi, kami sampai juga di puncak. Lagi-lagi kami takjub dengan pemandangan yang  di suguhkan pagi itu. Langit luas yang terbentang dengan warna merah dari matahari yang akan mulai terbit, dan juga hamparan awan yang membebentuk gulungan ombak di lautan, inilah puncak Ceremai, negeri atas awan Parahiyangan. Selain kita bisa melihat keindahan dari kawah Ceremai, kita juga bisa melihat hamparan laut Jawa dari ketinggian dan puncak-puncak gunung lainnya, diantaranya gunung Cikuray, gunung Slamet, gunung Sindoro dan Sumbing, serta hamparan laut Jawa.

Langit Merah Mengawali Terbitnya Matahari

Narsis Di Atas Kawah Ceremai

Antara Puncak Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing Dan Hamparan Laut Jawa

Berjalan menyusuri bibir kawah sebelah kiri kami sambil menikmati keindahan alam sekitar, sampailah kami di tugu Linggarjati, yang merupakan tanda dari puncak bila melewati jalur ini. Setelah istirahat sebentar, kamipun turun menggunakan jalur Linggarjati ini.

Akhirnya Sampai Juga Kami Di Tugu Puncak Linggarjati

Adapun pos-pos yang harus kami lalui di jalur Linggarjati ini adalah:

1. Pos Pangasinan (2800Mdpl. 0,8 Km menuju puncak)

2. Pos Sangga Buana 1-11 (2500Mdpl. 7,5 Km menuju Puncak)

3. Pos Batu Lingga (2200Mdpl. 2,3 Km menuju puncak)

4. Pos Bapak Tere (2025Mdpl. 3,4 Km menuju Puncak)

5. Pos Tanjakan Seruni (1825Mdpl. 4,2 Km menuju puncak)

6. Pos Pangalap (1650Mdpl. 5,5 Km menuju puncak)

7. Pos Kuburan Kuda (1450Mdpl. 6,1 Km menuju puncak)

8. Pos Condong Amis (1350Mdpl). Di sini juga merupakan Jalur pertemuan antara jalur Linggarjati dan jalur Linggasana.

9. Pos Leuweung Datar (1285Mdpl)

8. Pos Cibunar (750Mdpl). Hanya di Pos Cibunar ini terdapat mata air nila melewati jalur Linggarjati ini.

 

 

 

Pendakian Puncak Gede-Pangrango Jalur Putri

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup….

                         -Gie ( Jakarta 19-7-1966)

 

Berbeda dengan gunung-gunung yang lain, bila ingin melakukan pendakian ke puncak Gede-Pangrango, harus booking terlebih dahulu untuk dapat mengantongi surat izin, seminggu sebelum melakukan pendakian, karena Kepala Besar TNGGP di sini, menerapkan sistim kuota per harinya untuk pendakian ke gunung ini, dan perizinan di berikan pada satu grup umum, dengan jumlah minimal 3 orang,dan maksimal 20 orang, dan masing-masing pendaki di kenakan biaya tiket sebesar Rp.2500,-per orang dan diwajibkan membeli asuransi sebesar Rp.2000,-per orang.

Ada tiga jalur resmi untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Gede-Pangrango ini, yaitu jalur Cibodas, Gunung Putri dan Salabintana. Untuk pendakian kali ini saya ingin mencoba naik melalui jalur Gunung Putri. Ini kali keduanya saya melakukan pendakian ke puncak Gede-Pangrango, pertama kali ke gunung ini, saya memakai jalur Cibodas. Selain menambah pengalaman, memakai jalur Gunung Putri ini, juga saya dan teman-teman lainnya mempunyai misi untuk mencapai dua puncak sekaligus, yaitu puncak Gede, dengan ketinggian 2958 Mdpl, dan puncak Pangrango dengan ketinggian 3019 Mdpl. Jadi saya sarankan, untuk yang ingin mencapai dua puncak sekaligus, bisa melewati jalur ini. Lanjutkan membaca

Pendakian Gunung Merbabu 3142 Mdpl

Jam empat dinihari sudah nongkrong di pangkalan ojek Canguk-Magelang. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya datang juga bis yang akan mengantarkan saya ke desa Wekas, Kaponan. Rencana awal, naik lewat jalur Selo, berhubung teman mengusulkan untuk berangkat dari Wekas, kemudian turunnya lewat jalur Selo, tidak ada salahnya juga buat di coba. Pagi itu bis penuh oleh ibu-ibu yang sudah memulai aktifitasnya untuk pergi ke pasar… Saya berangkat sendirian dari Bekasi menggunakan bis patas ac Santoso dengan ongkos Rp 120.000; Kira-kira dua belas jam untuk sampai ke kota Magelang ini.

Jam menunjukan pukul enam pagi, sudah hampir satu jam saya menunggu temen yang berangkat dari Depok… Tapi belum muncul-muncul juga. Setelah di hubungi… ternyata dia mampir dulu di Jogja dan sedang menunggu temannya yang mau ikut bergabung dalam pendakian kami ke Merbabu. Karena sudah terlalu lama menunggu, dan diperkirakan teman masih sekitar dua jam perjalanan lagi untuk sampai di gapura desa Wekas ini… akhirnya saya berangkat duluan ke basecamp gunung Merbabu.

Ternyata untuk sampai ke basecamp desa Wekas, dari gapura lumayan cukup jauh… Membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki. Dengan tanjakan yang cukup menguras tenaga… ( lumayanlah buat pemanasan sebelum muncak nanti🙂 …) juga kita akan melewati perkampungan, hutan pinus, juga perkebunan penduduk. Disini juga sudah terlihat Merapi dengan jelas di balik gunung Merbabu. Lanjutkan membaca

Pendakian Gunung Slamet 3432 Mdpl

Jam dua belas siang, gua dan temen gua Tandro sampai di terminal Bobotsari, Kabupaten Purbalingga. Setelah menyempatkan makan siang terlebih dahulu, kami melanjutkan perjalanan kami berdua, menuju desa Bambangan, yang merupakan jalur resmi pendakian gunung Slamet. Menuju desa Bambangan, kami menaiki angkutan minibus, semacam mobil angkot dengan tarif 50.000; berdua, dan diantar sampai Bambangan. Sebelumnya kami berniat hanya sampai pasar pratin, dengan ongkos 7000; per orangnya, tapi berhubung supir mengusulkan mengantar kami sampai ke Bambangan, ya… sudah’lah kami setuju.

Setelah melalui perizinan yang menurut gua agak ribet, jam empat sore kami memulai pendakian, dengan terlebih dahulu melewati sebuah gapura yang bertuliskan ” Gerbang Pendakian Gunung Slamet”

Gapura jalur pendakian

Memasuki gapura, Ambil jalan setapak  ke arah kanan, dari sini kita akan berjalan diantara perkebunan penduduk.   Lanjutkan membaca

Catatan Alvaro, Pendakian Gunung Sumbing

Puji syukur kepada Tuhan, setelah gua menghabiskan waktu yang cukup lama… akhirnya gua nyampe juga di Desa Garung, Wonosobo, basecampnya gunung Sumbing. Setelah gua menempuh perjalanan yang cukup lama, dari kota Bekasi. Di desa Garung, gua sudah di tunggu oleh temen-temen gua, Esthi dan juga Faris. Mereka lebih dulu sampai di desa Garung, Faris berangkat dari Madiun, sampai di desa Garung sekitar jam empat dinihari, Esthi berangkat dari Depok, sampai di Desa Garung sekitar jam dua belas siang, sedangkan gua sendiri sampai desa Garung sekitar jam lima sore…. “Maaf ya friend, bukannya sengaja gua telat… tapi banyak banget halangan dalam perjalanan gua buat sampai di desa Garung ini.”

"Paling kiri faris tengah Esthi dan paling kanan gua sendiri"

Lanjutkan membaca

Desa Sawarna Dan Keindahan Pantainya

Desa Sawarna terletak di Kec. Bayah Kab. Lebak, Banten. Awalnya, gua hanya iseng, mencari tempat yang menarik untuk di kunjungi lewat mbah google. Karena rencana gua dan temen-temen gua gagal ke Ciwidey,akhirnya gua dan temen gua Ari, memutuskan untuk berangkat ke desa ini.

Jam satu siang, gua dan temen gua Ari mulai berangkat dari Cikarang menuju Sukabumi dengan menaiki  speda motor. Dari Cibadak Sukabumi, kami belok kiri ke arah Pelabuhan Ratu. Sekitar jam tujuh malam kami baru sampai di Pelabuhan Ratu, karena kondisi jalanan yang rusak, juga kemacetan yang terjadi akibat banyak’nya orang-orang yang ingin menghabiskan liburannya di tempat ini.

Karena sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan, dan kamipun tidak tahu medan yang akan kami lalui untuk samapai ke desa Sawarna, kamipun sepakat untuk bermalam dulu di salah satu penginapan yang ada di Pelabuhan Ratu ini, sekalian mencari informasi tentang desa Sawarna dan jarak tempuh yang akan kami lalui.

Setelah sepakat dengan harga yang di berikan oleh pemilik penginapan, kamipun menyewa salah satu kamar yang ada di penginapan ini. Untuk sewa perkamarnya, kami dikenakan tarif Rp. 150000; untuk non AC. Harga ini adalah hasil penawaran kami yang semula biaya inap per malam, pemilik penginapan memasang tarif Rp. 175000 per kamarnya. Untuk kamar yang memakai AC, di kenakan biaya sekitar Rp. 200000; per malamnya.

Jam delapan pagi, kami melanjutkan perjalanan kami menuju desa Sawarna, setelah mendapatkan petunjuk jalan dari warga setempat, dan juga dari pemilik penginapan yang kami tempati. Untuk wisatawan, mungkin tidak banyak yang mengetahui letak desa Sawarna, karena letaknya yang terpencil. Satu jam perjalanan dari Pelabuhan Ratu untuk sampai ke desa ini. Kondisi jalanan lumayan bagus, dan sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan laut dari atas bukit, dan teduhnya jalanan, karena rimbunnya pepohonan sepanjang perjalanan kami.

" menikmati keindahan laut dari atas bukit"

Lanjutkan membaca

Touring Di Bumi Parahyangan, Tangkuban Perahu Dan Pemandian Air Panas Ciater

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat parahyangan, nama Tangkuban Perahu tidak bisa di pisahkan dari cerita legenda Sangkuriang dan ibunya Dayang Sumbi. Diceritakan ada seorang pemuda yang bernama Sangkuriang, yang mencintai ibunya sendiri Dayang Sumbi. Karena mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya sendiri, maka Dayang Sumbi’pun meminta sebuah persyaratan yang tidak masuk akal kepada Sangkuriang bila ia tetap ingin mennikahi’nya, yaitu meminta dibuatkan sebuah danau lengkap dengan perahu’nya. Karena usaha Sangkuriang gagal akibat campur tangan ibu’nya Dayang Sumbi, Sangkuring’pun tidak bisa menutupi kekesalannya dengan menendang perahu yang telah dibuatnya sehingga terbalik. Perahu inilah yang kemudian di percaya menjadi sebuah gunung.

Dibalik legenda Sangkuriang, ternyata Tangkuban Perahu menyimpan pesona keindahan kawahnya, sehingga kamipun tertarik untuk mengunjungi tempat ini, dengan acara touring motor. Kami berangkat malam hari dari kota Bekasi, mengingat tempat ini tidak begitu jauh dari kota kami, sekitar tiga jam perjalanan. Diawali dari kota Bekasi, Karawang, Purwakarta, Wanayasa, dan yang terakhir kota Subang. Di kota Subang ini terdapat rekreasi pemandian air panas Ciater. Pemandian air panas ini terletak diantara perkebunan teh yang berhawa sejuk. Kamipun menyempatkan diri  untuk berendam air panas di Ciater, dengan terlebih dahulu membayar ticket masuk melalui calo dengan harga ticket seharga Rp. 30000;/orang untuk kelas vip. Jalan satu-satunya agar bisa menikmati sensasi berendam air panas malam hari yaitu melalui calo, dikarenakan kolam pemandian air panas malam hari ditutup untuk umum.

kolam pemandian air panas Ciater

 

Lanjutkan membaca