Pendakian Puncak Gede-Pangrango Jalur Putri

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup….

                         -Gie ( Jakarta 19-7-1966)

 

Berbeda dengan gunung-gunung yang lain, bila ingin melakukan pendakian ke puncak Gede-Pangrango, harus booking terlebih dahulu untuk dapat mengantongi surat izin, seminggu sebelum melakukan pendakian, karena Kepala Besar TNGGP di sini, menerapkan sistim kuota per harinya untuk pendakian ke gunung ini, dan perizinan di berikan pada satu grup umum, dengan jumlah minimal 3 orang,dan maksimal 20 orang, dan masing-masing pendaki di kenakan biaya tiket sebesar Rp.2500,-per orang dan diwajibkan membeli asuransi sebesar Rp.2000,-per orang.

Ada tiga jalur resmi untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Gede-Pangrango ini, yaitu jalur Cibodas, Gunung Putri dan Salabintana. Untuk pendakian kali ini saya ingin mencoba naik melalui jalur Gunung Putri. Ini kali keduanya saya melakukan pendakian ke puncak Gede-Pangrango, pertama kali ke gunung ini, saya memakai jalur Cibodas. Selain menambah pengalaman, memakai jalur Gunung Putri ini, juga saya dan teman-teman lainnya mempunyai misi untuk mencapai dua puncak sekaligus, yaitu puncak Gede, dengan ketinggian 2958 Mdpl, dan puncak Pangrango dengan ketinggian 3019 Mdpl. Jadi saya sarankan, untuk yang ingin mencapai dua puncak sekaligus, bisa melewati jalur ini. Continue reading

Pendakian Gunung Merbabu 3142 Mdpl

Jam empat dinihari sudah nongkrong di pangkalan ojek Canguk-Magelang. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya datang juga bis yang akan mengantarkan saya ke desa Wekas, Kaponan. Rencana awal, naik lewat jalur Selo, berhubung teman mengusulkan untuk berangkat dari Wekas, kemudian turunnya lewat jalur Selo, tidak ada salahnya juga buat di coba. Pagi itu bis penuh oleh ibu-ibu yang sudah memulai aktifitasnya untuk pergi ke pasar… Saya berangkat sendirian dari Bekasi menggunakan bis patas ac Santoso dengan ongkos Rp 120.000; Kira-kira dua belas jam untuk sampai ke kota Magelang ini.

Jam menunjukan pukul enam pagi, sudah hampir satu jam saya menunggu temen yang berangkat dari Depok… Tapi belum muncul-muncul juga. Setelah di hubungi… ternyata dia mampir dulu di Jogja dan sedang menunggu temannya yang mau ikut bergabung dalam pendakian kami ke Merbabu. Karena sudah terlalu lama menunggu, dan diperkirakan teman masih sekitar dua jam perjalanan lagi untuk sampai di gapura desa Wekas ini… akhirnya saya berangkat duluan ke basecamp gunung Merbabu.

Ternyata untuk sampai ke basecamp desa Wekas, dari gapura lumayan cukup jauh… Membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki. Dengan tanjakan yang cukup menguras tenaga… ( lumayanlah buat pemanasan sebelum muncak nanti :) …) juga kita akan melewati perkampungan, hutan pinus, juga perkebunan penduduk. Disini juga sudah terlihat Merapi dengan jelas di balik gunung Merbabu. Continue reading

Pendakian Gunung Slamet 3432 Mdpl

Jam dua belas siang, gua dan temen gua Tandro sampai di terminal Bobotsari, Kabupaten Purbalingga. Setelah menyempatkan makan siang terlebih dahulu, kami melanjutkan perjalanan kami berdua, menuju desa Bambangan, yang merupakan jalur resmi pendakian gunung Slamet. Menuju desa Bambangan, kami menaiki angkutan minibus, semacam mobil angkot dengan tarif 50.000; berdua, dan diantar sampai Bambangan. Sebelumnya kami berniat hanya sampai pasar pratin, dengan ongkos 7000; per orangnya, tapi berhubung supir mengusulkan mengantar kami sampai ke Bambangan, ya… sudah’lah kami setuju.

Setelah melalui perizinan yang menurut gua agak ribet, jam empat sore kami memulai pendakian, dengan terlebih dahulu melewati sebuah gapura yang bertuliskan ” Gerbang Pendakian Gunung Slamet”

Gapura jalur pendakian

Memasuki gapura, Ambil jalan setapak  ke arah kanan, dari sini kita akan berjalan diantara perkebunan penduduk.   Continue reading

Catatan Alvaro, Pendakian Gunung Sumbing

Puji syukur kepada Tuhan, setelah gua menghabiskan waktu yang cukup lama… akhirnya gua nyampe juga di Desa Garung, Wonosobo, basecampnya gunung Sumbing. Setelah gua menempuh perjalanan yang cukup lama, dari kota Bekasi. Di desa Garung, gua sudah di tunggu oleh temen-temen gua, Esthi dan juga Faris. Mereka lebih dulu sampai di desa Garung, Faris berangkat dari Madiun, sampai di desa Garung sekitar jam empat dinihari, Esthi berangkat dari Depok, sampai di Desa Garung sekitar jam dua belas siang, sedangkan gua sendiri sampai desa Garung sekitar jam lima sore…. “Maaf ya friend, bukannya sengaja gua telat… tapi banyak banget halangan dalam perjalanan gua buat sampai di desa Garung ini.”

"Paling kiri faris tengah Esthi dan paling kanan gua sendiri"

Continue reading

Desa Sawarna Dan Keindahan Pantainya

Desa Sawarna terletak di Kec. Bayah Kab. Lebak, Banten. Awalnya, gua hanya iseng, mencari tempat yang menarik untuk di kunjungi lewat mbah google. Karena rencana gua dan temen-temen gua gagal ke Ciwidey,akhirnya gua dan temen gua Ari, memutuskan untuk berangkat ke desa ini.

Jam satu siang, gua dan temen gua Ari mulai berangkat dari Cikarang menuju Sukabumi dengan menaiki  speda motor. Dari Cibadak Sukabumi, kami belok kiri ke arah Pelabuhan Ratu. Sekitar jam tujuh malam kami baru sampai di Pelabuhan Ratu, karena kondisi jalanan yang rusak, juga kemacetan yang terjadi akibat banyak’nya orang-orang yang ingin menghabiskan liburannya di tempat ini.

Karena sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan, dan kamipun tidak tahu medan yang akan kami lalui untuk samapai ke desa Sawarna, kamipun sepakat untuk bermalam dulu di salah satu penginapan yang ada di Pelabuhan Ratu ini, sekalian mencari informasi tentang desa Sawarna dan jarak tempuh yang akan kami lalui.

Setelah sepakat dengan harga yang di berikan oleh pemilik penginapan, kamipun menyewa salah satu kamar yang ada di penginapan ini. Untuk sewa perkamarnya, kami dikenakan tarif Rp. 150000; untuk non AC. Harga ini adalah hasil penawaran kami yang semula biaya inap per malam, pemilik penginapan memasang tarif Rp. 175000 per kamarnya. Untuk kamar yang memakai AC, di kenakan biaya sekitar Rp. 200000; per malamnya.

Jam delapan pagi, kami melanjutkan perjalanan kami menuju desa Sawarna, setelah mendapatkan petunjuk jalan dari warga setempat, dan juga dari pemilik penginapan yang kami tempati. Untuk wisatawan, mungkin tidak banyak yang mengetahui letak desa Sawarna, karena letaknya yang terpencil. Satu jam perjalanan dari Pelabuhan Ratu untuk sampai ke desa ini. Kondisi jalanan lumayan bagus, dan sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan laut dari atas bukit, dan teduhnya jalanan, karena rimbunnya pepohonan sepanjang perjalanan kami.

" menikmati keindahan laut dari atas bukit"

Continue reading

Touring Di Bumi Parahyangan, Tangkuban Perahu Dan Pemandian Air Panas Ciater

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat parahyangan, nama Tangkuban Perahu tidak bisa di pisahkan dari cerita legenda Sangkuriang dan ibunya Dayang Sumbi. Diceritakan ada seorang pemuda yang bernama Sangkuriang, yang mencintai ibunya sendiri Dayang Sumbi. Karena mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya sendiri, maka Dayang Sumbi’pun meminta sebuah persyaratan yang tidak masuk akal kepada Sangkuriang bila ia tetap ingin mennikahi’nya, yaitu meminta dibuatkan sebuah danau lengkap dengan perahu’nya. Karena usaha Sangkuriang gagal akibat campur tangan ibu’nya Dayang Sumbi, Sangkuring’pun tidak bisa menutupi kekesalannya dengan menendang perahu yang telah dibuatnya sehingga terbalik. Perahu inilah yang kemudian di percaya menjadi sebuah gunung.

Dibalik legenda Sangkuriang, ternyata Tangkuban Perahu menyimpan pesona keindahan kawahnya, sehingga kamipun tertarik untuk mengunjungi tempat ini, dengan acara touring motor. Kami berangkat malam hari dari kota Bekasi, mengingat tempat ini tidak begitu jauh dari kota kami, sekitar tiga jam perjalanan. Diawali dari kota Bekasi, Karawang, Purwakarta, Wanayasa, dan yang terakhir kota Subang. Di kota Subang ini terdapat rekreasi pemandian air panas Ciater. Pemandian air panas ini terletak diantara perkebunan teh yang berhawa sejuk. Kamipun menyempatkan diri  untuk berendam air panas di Ciater, dengan terlebih dahulu membayar ticket masuk melalui calo dengan harga ticket seharga Rp. 30000;/orang untuk kelas vip. Jalan satu-satunya agar bisa menikmati sensasi berendam air panas malam hari yaitu melalui calo, dikarenakan kolam pemandian air panas malam hari ditutup untuk umum.

kolam pemandian air panas Ciater

 

Continue reading

Edelweiss

Mungkin untuk sebagian orang bunga ini hanyalah pelengkap di pegunungan, tapi di mata gua bunga ini sangat special dan mempunyai nilai eksotik tersendiri buat gua, di bandingkan dengan bunga-bunga cantik lainnya…

Bunga ini mempunyai nama latin Anaphalis Javanika, atau yang lebih umum kita menyebutnya dengan Edelweiss Jawa, atau juga bunga abadi. Bunga ini tergolong tumbuhan langka, karena hanya tumbuh di sebagian pegunungan tinggi yang ada di Indonesia. Meskipun kita sering menemukan tinggi dari tumbuhan ini tidak lebih dari satu meter, ternyata tinggi dari tumbuhan ini bisa mencapai delapan meter dan batang bisa sebesar kaki manusia.

Mungkin karena ke’eksotikkannya dan juga keanggunan dari Edelweis ini, sehingga banyak sekali pendaki yang memetik bunga Edelweiss ini sebagai oleh-oleh khas dari pegunungan… padahal sayang sekali bila bunga yang indah ini harus di rusak oleh tangan-tangan jahil pendaki yang mengaku sebagai pencinta alam. Kalaupun kagum dengan bunga ini, cukuplah menikmati keindahan bunga Edelweiss dengan memandangnya ataupun memotretnya sebagai kenang-kenangan di bawah nanti, tanpa harus memetik bunga yang langka ini…

" Edelweiss"

Continue reading

Alone

Ketika aku kecil, aku bertanya… mau jadi apa?? Jalan itu buntu ketika aku beranjak dewasa…

Kenangan tak bisa terulang, harapan hanya bayangan…

Detik demi detik hanya dalam kegelapan, mengantarkanku dalam kehampaan…

Saat kesadaran membangunkanku, saat kenyataan menamparku….

Aku harus berjalan sendiri dalam keterpuruk’kan….

Rintihanku mungkin sudah tidak terdengar lagi… deritaku mungkin sudah tidak terlihat lagi…

Teman yang mendapingiku hanya angin…. sahabat yang mendengarkanku hanya hati…

 

Papandayan Kita Bersama

” Semua yang kita lakukan… semua yang kita jalankan… semuanya tentang kita kawan!!!! Semua kenangan… semua harapan… semua menjadi cerita untuk kita di masa depan. Saya, Tandro, Agus dan Dwiyanto mencoba mencari kisah kami di gunung Papandayan 2665 mdpl, terletak di kota Garut, Jawa Barat.

Paling kiri Dwi, saya, agus, dan Tandro

Perjalanan kami mulai dari terminal Bekasi, Saya, Tandro dan Agus berangkat langsung dari tempat kerjaan, di terminal sudah menunggu Dwiyanto dan Yadi yang kebetulan mereka sudah libur lebih awal dari kami bertiga… Yadi ini kebetulan orang asli Garut sekaligus teman se’pekerjaan dengan kami. Jam setengah delapan malam bus dari terminal Bekasi menuju garut ternyata sudah habis, kami terpaksa menaiki bus Primajasa arah Tasikmalaya dan berhenti di Cileunyi-Bandung, untuk meneruskan perjalanan kami menuju kota Garut. Ongkos bus Primajasa dari Bekasi sampai Cileunyi /orang’nya Rp 21.ooo

Jam sebelas malam kami sampai di Cileunyi, kemudian melanjutkan perjalanan kami kembali menuju kota Garut dengan menaiki bus dari arah Jakarta. Perjalanan dari Cileunyi menuju Garut banyak sekali belokan-belokan khas daerah pegunungan, mungkin buat orang yang mempunyai penyakit mabok darat, cukup’lah…. buat mengelurkan isi perut mereka….. Continue reading

SURGA DI SEMERU

Perjalanan ini kita lakukan pada liburan hari Raya Idul Fitri kemarin, tapi baru sempat saya publikasikan sekarang.  Awalnya obrolan iseng kami, untuk mengisi liburan yang lumayan cukup lama, dan sayang bila kami sia-siakan begitu saja… dengan tidak melakukan apapun. Kebetulan kami mempunyai hobi yang sama dalam mengisi liburan kami…’’ yup!!!!  Menikmati alam!!!! “. Setelah mencari-cari tujuan mana yang akan kami kunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke puncak tertinggi  di pulau Jawa… “ MAHAMERU “.

 

Pilar langit

STASIUN  SENEN 12-9-2010

Jam 12:00 stasiun senen ramai sekali dengan orang-orang yang ingin memakai jasa angkutan kereta api, mungkin saat itu bertepatan dengan liburan hari raya Idul Fitri, ada yang memang berniat untuk mudik… tapi banyak pula yang hanya iseng-iseng mengisi liburan, seperti kami. Itu terbukti dengan banyak’nya anak-anak muda dengan setelan khas para pendaki, kumplit dengan tas gede di punggung mereka, ataupun  menaruh tas mereka supaya berdiri dan saling menopang… itu salah satu kebiasaan para pendaki… mungkin syimbol dari kebersamaan dan saling menjaga. Kamipun sempat berkenalan dengan salah satu dari rombongan pendaki, yang beranggotakan dua orang pria dan satu orang wanita, kebetulan mereka mempunyai tujuan yang sama dengan kami.  Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.